About

Club Cooee

Pages - Menu

Selasa, 11 Juni 2013

Tradisi Pemberian Nama Orang Bali


Nama orang Bali umumnya diawali dengan sebutan yang mencirikan kasta (wangsa) dan urutan kelahiran. Menurut “sastra kanda pat sari“, Nama-nama depan khas Bali itu sejatinya tidak lebih sebagai semacam penanda urutan kelahiran sang anak, dari pertama hingga keempat, adalah sebagai berikut:
1. Anak pertama biasanya diberi awalan “Wayan” diambil dari kata wayahan yang artinya tertua/lebih tua, yang paling matang. Selain Wayan, nama depan untuk anak pertama juga kerapkali digunakan Putu atau Gede. Dua nama ini biasanya digunakan oleh orang Bali di belahan utara dan barat, sedangkan di Bali Timur dan Selatan cenderung memilih nama Wayan. kata “Putu” artinya cucu. Sedangkan “Gede” artinya besar /lebih besar. Dan untuk anak perempuan kadang diberi tambahan kata “Luh” Contoh : I wayan budi mahendra, Ni Putu Erni Andiani, I Gede Suardika, Ni Luh Putu Santhi dll
2. Anak kedua biasanya diberi awalan “Made” diambil dari kata madya (tengah). Di beberapa daerah di Bali, anak kedua juga kerap diberi nama depan “Nengah” yang juga diambil dari kata tengah. Ada juga yang menggunakan kata “Kadek” merupakan serapan dari “adi” yang kemudian menjadi “adek” yang bermakna utama, atau adik. Contoh: I Kadek Mardika, Ni Made Suasti, Nengah Sukarmi dll
3. Anak ketiga biasanya diberikan nama depan “Nyoman” atau “Komang” yang konon diambil dari kata nyeman (lebih tawar) yang mengambil perbandingan kepada lapisan kulit pohon pisang, dimana ada bagian yang selapis sebelum kulit terluar yang rasanya cukup tawar. Nyoman ini konon berasal dari serapan “anom+an” yang bermakna muda. Kemudian dalam perkembangan menjadi komang yang secara etimologis berasal dari kata uman yang bermakna “sisa” atau “akhir”. Jadi menurut pandangan hidup kami, sebaiknya sebuah keluarga memiliki tiga anak saja. Setalah beranak tiga, kita disarankan untuk lebih “bijaksana”.
4. Anak keempat biasanya diawali dengan sebutan “Ketut”, yang merupakan serapan “ke + tuut” – ngetut yang bermakna mengikuti mengikuti atau mengekor. Ada juga yang mengkaitkan dengan kata kuno Kitut yang berarti sebuah pisang kecil di ujung terluar dari sesisir pisang. Ia adalah anak bonus yang tersayang.
Bila keluarga berancana gagal dan sebuah keluarga memiliki lebih dari empat anak, Ada 2 alternatif yang bisa dipakai orang tua untuk memberi nama depan pada anak kelima, keenam, dan seterusnya. Nama depan untuk anak kelima dan seterusnya mengulang kembali nama-nama depan sebelumnya sesuai urutannya. Ada orang tua yang sengaja menambahkan kata “Balik” setelah nama depan anaknya untuk memberi tanda bahwa anak tersebut lahir setelah anak yang keempat. Contohnya: I Wayan Balik Suandra.
Untuk membedakan jenis kelamin, orang bali mengawali setiap nama dengan menambah satu kata lagi, yaitu Awalan “I” untuk anak lelaki Awalan “Ni” untuk anak perempuan. Tapi tidak semua kasta (wangsa) orang Bali menggunakan kata I atau Ni. Misalnya dari golongan Anak Agung semuanya akan diawali dengan kata “Anak Agung”, “cokorda” dll.
Selain menunjukkan urutan kelahiran, ada nama depan tertentu yang menunjukkan kasta di bali. Penamaan berdasarkan Kasta ini merupakan gelar warisan turun temurun yang melekat pada keturunan orang Bali yang dulunya memiliki kelas tersendiri berdasarkan profesinya.
Ada 6 urutan nama yang menunjukkan kasta seseorang. Berikut ini adalah urutannya.
  1. Kasta tertinggi (brahmana), untuk keturunan pendeta biasanya namanya diawali dengan Ida Bagus (laki-laki) atau Ida Ayu (perempuan), Ida Ayu bisa disingkat jadi Dayu. Contohnya: Ida Bagus Dharmaputra, Ida Ayu Diah Tantri.
  2. Kasta kedua, ksatria tapi untuk keturunan raja-raja. Biasanya namanya diawali dengan Cokorda. Contohnya: Cokorda Rai Sudarta, I Dewa Putu Kardana, I Gusti Ngurah Adiana, dll.
  3. Kasta ketiga, ksatria juga tapi untuk keturunan anak-anak raja yang tidak menjadi raja (bukan putra mahkota). Biasanya namanya diawali dengan Anak Agung atau biasanya disingkat jadi A.A. Contohnya: Anak Agung Komang Panji Tisna, Anak Agung Ayu Wulandari.
  4. Kasta keempat, masih ksatria, tapi untuk keturunan pendekar-pendekar. Biasanya namanya diawali dengan Dewa (laki-laki) atau Desak (perempuan).
  5. Kasta kelima atau vaisya, yaitu untuk orang-orang terpandang, misalnya pengusaha, pemilik sawah dan lain-lain, tapi tidak termasuk dalam lingkungan puri/kerajaan. Kasta ini sebenarnya hanya sedikit di atas kasta sudra. Malah untuk era saat ini kebanyakan orang sudah menganggap orang berkasta kelima ini sama saja dengan orang yang tidak memiliki kasta (kasta sudra). Kasta ini biasanya namanya diawali dengan I Gusti (laki-laki) atau I Gusti Ayu (perempuan).
  6. Kasta keenam atau yang terakhir yaitu kasta sudra. Orang Bali biasa menyebut dengan orang tak berkasta karena hanya orang biasa seperti buruh, petani, dll. Biasanya namanya tidak menyandang berbagai gelar seperti yang disebutkan di atas, langsung saja Ni Luh, Ketut, Made, Nyoman.

Disamping itu ada sapaan yang biasa diberikan oleh orang yang lebih kecil kepada yang lebih tua dan sebaliknya. Diantaranya:
  • Sapaan “Bli” untuk setiap pria yang ditemui. Terlepas itu benar atau salah, orang Bali tidak pernah mempermasalahkan. Mereka lebih cenderung untuk menghargai pengunjung yang berusaha “menghormati” dengan sebutan yang lebih akrab seperti “Bli”.
  • Sebutan “Mbok” diberikan untuk wanita Bali.
  • Sapaan “Adi / adik” atau menyebut nama langsung diberikan kepada wanita ataupun pria yang lebih muda.
  • Selain itu ada panggilan akrab yang sering didengar untuk memanggil orang bali yang masih kecil, anak remaja atau lebih muda (kira – kira belum menikah) diantaranya panggilan “Gus” untuk laki-laki. Gus ini bersumber pada kata “bagus” yang artinya tampan, ganteng, dan panggilan “Gek” merupakan singkatan dari “Jegeg” yang artinya cantik, ayu.
  • Tugeg : singkatan dari Ratu-Jegeg, panggilan kehormatan untuk perempuan bangsawan (kasta Brahmana) dari kasta yang lebih rendah.
  • Jero : panggilan untuk perempuan yang menikah dengan bangsawan.
  • Wang jero : pembantu perempuan
  • Meme : ibu
  • Aji : ayah
  • Tiang : saya
Dikutip oleh LyngLyng dari berbagai sumber.

Selasa, 04 Juni 2013

Belajar Menulis: Mengatasi Writer Block

gambar: writinghappiness.com

Beberapa Penyebab Writer Block:

  1. Secara materi, putus nulis pertanda utama kalian belum menguasai tema yang sedang ditulis.
  2. Secara teknik, menandakan kalian masih terlalu monoton (kurang kaya cara) dalam cara menuliskan tema.
  3. Secara kosakata, pertanda kalian kurang kaya pilihan kata.

Cara mengatasi Writer Block:
  1. Tentang materi: Kita harus mencari data dan info yang lebih banyak lagi. sampai kita merasa sudah menguasai lebih detail. Kemudian harus direnungkan, pantangin dalam pikiran dan rasa, agar penguasaan tema lebih dalam.
  2. Tentang teknik: cara terefektif memperkaya cara-cara itu ialah dengan mencermati dan mengamati teknik-teknik yang dipake orang. Terapkan penggunaan teknik-teknik orang dengan bahasa kita, pada gilirannya kita akan bisa mengembangin teknik sendiri.
  3. Tentang diksi atau kosakata: bisa diperkaya dengan banyak membaca apapunm terutama karya orang-orang senior. Praktek langsung dalam tulisan kita dengan menggunakan ragam idiom yang kita dapat dari bacaan-bacaan tersebut.
  4. Tips tambahan: jika buntu, berhenti dulu, tutup, rehat, relaks, tetapi tetap sambil memikirkan itu mau dikembangin kemana. Jangan terlalu lama mendiamkannya sebab bisa saja justru akan menghilangkan passion kita pada tema yang macet tadi.
  5. Nonton film, cerita ke temen, biar dapat view baru akan banyak membantu mengatasi kendali macet itu.

Tips Memperkaya Kosakata:



  1. Pengayaan kosakata HANYA bisa diraih dengan banyak baca, lihat kamus, ngobrol, bergaul, mendengarkan, merenung, menghafal dan latihan.
  2. Pemakaian kosakata hanya akan tepat guna, tidak cuma sok berpuisi, agar tastenya dapet HANYA dengan mempraktekkan kosakata baru dalam tulisan.
  3. Kata "bergerak": melintas, berkelejar, berkelindan, berarak, beriringan, berajutan, melindap, melangkah, menuju, berkelebat.
  4. "Kata"= ujar, sahut, ucap, desah, bisik, gumam, batin, dengus, lenguh, sergah, jerit, pekik, lengking, derit, desau, lirih.
  5. Jangan pernah terjebak dalam "makna formal" kata ya, kembangin luas maknanya, asal tepat guna, pasti jadi kekuatan kalimatmu.
  6. Bebaskan kata dari belenggu definisi formal yang selama ini kalian kenal, dengan catatan digunakan secara tepat biar pembaca tetap paham. Misalnya kita taunya kata "sakit" itu penyakit, kenapa gak dibebasin maknanya jadi: sakit harapan, terancam sakit keren, sakitnya terpesona. Contoh kalimatnya: "Sakit terindahku ialah saat diguyur hujan di ketinggian gunung yang beku dalam dekapanmu yang sanggup membaca bisik jantungku."
 Sumber: Chirpstories

Selasa, 28 Mei 2013

Belajar Menulis: Mengenal dan Menulis Flash Fiction

gambar: wikihow.com

Flash Fiction adalah Karya fiksi yang singkat dengan jumlah kata tidak lebih dari 1000 kata. Umumnya, 100-500 kata. Umumnya beberapa unsur cerita, dalam Flash Fiction muncul secara tersirat, sehingga minim deskripsi. Keunikan dari Flash Fiction yaitu memiliki twist, sebuah akhir cerita yang tidak terduga. 
Berikut ini, Nulisbuku akan memberikan tips-tips dalam menulis Flash Fiction:
  1. Mulailah dengan sebuah ide yang sederhana. Dalam menulis Flash Fiction cobalah dimulai dengan ide yang sederhana sebagai bagian dari sebuah masalah yang kompleks. Apapun idenya, tulislah. Gunakan topik yang kecil dan membangun. 
  2. Lupakan deskripsi. Gunakan sesingkat mungkin deskripsi di awal cerita, jika bisa hilangkan dekripsi awal. Karena  Flash Fiction lebih singkat dari cerpen, maka adanya deskripsi awal akan membuat flash fiction menjadi bertele-tele.
  3. Mulailah dari tengah. Seperti pada poin 2, keberadaan deskripsi awal sebagai pembukaan pada Flash Fiction tidaklah berarti. Mulailah cerita dari konflik yang terjadi dan buatlah Flash Fictionmu menarik! Meskipun dimulai dari tengah cerita, unsur-unsur cerita seperti karakter, setting, dll harus tetap ada. Caranya? Sampaikan beberapa unsur tersebut secara tersirat.
  4. Gunakan kalimat aktif. Umumnya, kalimat aktif muncul sebagai dialog tokoh. Kunci menulis fiksi adalah dengan menunjukkan bukan menceritakan. Dengan lebih banyak menggunakan kalimat aktif, ceritamu akan lebih banyak menunjukkan unsur-unsur secara intrinsik. Jadi, tanpa perlu mendeskripsikan bahwa tokoh Flash Fictionmu adalah antagonis dapat tersirat dalam dialognya.  
  5. Gunakan sindiran secara tak langsung (Allusive). Sindiran secara tak langsung ini dapat berfungsi sebagai referensi. Kalian bisa mengacu pada peristiwa sejarah, biografi seorang tokoh atau yang lainnya. Hati-hati menggunakan bahan yang terlalu jelas, pembaca harus bisa membuat kesimpulan dari Flash Fictionmu. Contoh dari penggunaan allusive misalnya tenggelamnya kapal Titanic. 
  6. Gunakan twist. Twist merupakan suatu akhir Flash Fiction yang tidak terduga. Tapi, bukan berarti akhir yang mengejutkan itu tidak cocok dengan keseluruhan isi cerita. Melainkan, sesuatu yang membuat pembaca merasa bahwa bahwa hal itu hadir, tapi masuk akal.
  7. Baca dan Edit. Ingat! Bahwa yang sedang kalian buat adalah sebuah Flash Fiction bukan cerpen, jadi tentukan waktu untuk mengakhiri cerita. Sehingga cerita tidak terlalu panjang yang pada akhirnya menyebabkan Flash Fictionmu menjadi cerpen. Jika Flash Fiction sudah selesai, bacalah! Apabila Flash Fiction terlalu panjang, seperti cerpen maka editlah. Buang hal-hal yang tidak penting sehingga menjadi cerita yang ringkas, itulah Flash Fiction.
Sumber: @nulisbuku

Selasa, 21 Mei 2013

Belajar Menulis: Dialog dan Narasi

gambar: odazzander.blogspot.com

Penggunaan Dialog dalam Novel

Selain narasi\paparan, dialog\obrolan tokoh-tokoh adalah bentuk yang lazim ada dalam sebuah cerita. Fungsi dialog adalah untuk menguatkan jalan cerita dan juga “mencairkan” narasi agar tidak terlalu berat dibaca. Tetapi juga jangan isinya dialog melulu sebab narasi juga diperlukan untuk membangun paparan suasana dan emosi tokoh, sebaiknya seimbang aja. Materi atau jalan cerita yang sudah dikandung narasi jangan diulang dalam dialog, sebaliknya pula, keduanya untuk saling menguatkan. 
Dialog bisa ditempatkan dimana saja, sesuai kebutuhannya, bahkan bisa dijadikan siasat untuk menyambung antar paragraf, seperti saat buntu. Dialog membantu pembaca untuk memahami aksen bicara dan karakter tokoh. Setiap tokoh punya gaya berbicara yang berbeda-beda. Tunjukkanlah! 

Ada 5 faktor yang mempengaruhi gaya berbicara tokoh:
  1. Geografis. Ingat! Orang Betawi tidak memiliki akses seperti orang Jawa, dan sebaliknya.
  2. Pendidikan. Gaya berbicara tokoh seorang direktur tentu berbeda dengan seorang pedagang .
  3. Personaliti. Dipengaruhi sifat tokoh yang mudah marah, mudah tersinggung ataukah terlalu sabar?
  4. Lawan bicara. Perhatikan dengan siapa si tokoh berbicara? Guru? Orang tua ataukah anak-anak? Tentunya harus berbeda.
  5. Respon. Respon terhadap lawan bicara atau terhadap keadaan, apakah si tokoh takut, gugup ataukah menutup diri?

Sulit? Tentu tidak! Hanya saja kita harus banyak belajar. Caranya?
  1. Perhatikan gaya bicara orang-orang di jalan atau di sekitarmu. Mereka punya cara bicara yang khas, bukan?
  2. Yang paling utama adalah dengan memahami karakter/tokohmu.
  3. Ucapkan dan ulangi dialog tersebut hingga sesuai dengan tokoh.

Sekarang, perhatikan Do’s and Don’ts dalam membuat dialog:
  • Do’s: Perhatikan gaya bicara masing-masing tokoh. Ingat! Gaya bicara pasti berbeda-beda. 
  • Do’s: Potong dialog-dialog yang tidak terlalu penting. Jangan terlalu banyak agar pembaca tidak bosan
  • Do’s: Tunjukkan emosi tokoh dengan dialog, bukan diceritakan. Misalnya jangan tuliskan “dia berkata dengan marah.” tetapi tunjukkan kemarahan tokoh melalui dialog.
  • Do’s: Pastikan dialog logis sesuai karakter tokoh. Jangan sampai anak SD kok ngomong tentang filsafat hermeneutika Gadamer dan Dilthey dan Ricoeur.
  • Do’s: Sertakan keterangan-keterangan emosi tokoh dalam berdialog itu. Seperti: Marah. Tawa. Nangis. Datar. Dll. Tetapi inget keterangan itu jangan dipakai pada tiap dialog. Tetapi juga seperlunya. Yang penting juga kejelasan pengucap, agar pembca tidak bingung.  
  • Do’s: Keterangan itu bisa banyak diksinya, jangan cuma “kata agus”. Bisa juga dengan menggunakan: Ujar, sahut, celoteh, sergah, bisik, dengus, potong, balas, gumam… Sorot, nanar, tajam, isak, timpal, sela, tukas, bahas, terang, tegas, geleng dll. 
  • Do’s: Kata keterangan juga bisa ditaruh di depan, tengah dan belakang. Variasikanlah! Bosen kan kalo dari depan mulu.
    Do’s: Gunakan tanda baca dengan tepat! Tanda baca diperlukan untuk menggambarkan suasana emosi dialog itu. 
  • Do’s: Selipkan narasi-narasi pendek di antara dialog-dialog itu, ini jg bagian dari strategi variasi itu tadi. 

  • Don’ts: Jangan banyak berbasa basi, misalnya dengan dialog “Hai”, “Halo”, “Apa Kabar?” dsb, tetapi fokuslah terhadap apa yang hendak disampaikan melalui dialog itu.
  • Don’ts: Jangan merasa wajib untuk memberikan tag pada setiap dialog. Misalnya, “kata Tina” atau “tanya Silvi” tidak perlu dituliskan bila sudah cukup jelas.
  • Don’ts: Jangan membuat pembaca bingung dengan dialog yang disampaikan. Karena dialog seharusnya memperjelas dan bukan membingungkan.
  • Don’ts: Jangan jadikan dialog tokoh-tokoh sebagai “corong kultum” penulis. Jangan! Dialog harus selalu sesuai dengan tokoh dan konflik dengan alamiah dan logis. Betapa membosankannya pembaca melihat dialog kultum: kau harus shalat dhuha agar rezekimu lancar! Shalat dhuha adalah…. *jgn terseret dialog.
  • Don’ts: Jangan kaku dalam menjalinkan dialog. Buatlah selincah mungkin bak kita sedang mengobrol beneran sehari-sehari itu.
  • Don’ts: Jangan panjang-panjang dialog satu tokoh. Dialog masa sampe 3 halaman tanpa sela sahutan tokoh lain or narasi apa pun. Kesannya kayak khutbah. 


Narasi Dan Dramatisasi

Dramatisasi dilakukan dengan mendetailkan pengalaman kelima indera pada tubuh si tokoh. Bukan sembarang detail. Diksi pada frasa dan klausa sangat menentukan berhasil tidaknya penyampaian rasa pada pembaca. 

Seringkali terjadi kesalahan dalam mendramatisir suasana:
  • Untuk dramatisasi, penutur orang pertama paling berasa, tapi kadang penulis ‘offside’ karena membuat orang pertama tahu segala hal.  
    Misal penutur orang pertama, nama tokohnya Asep, tahu isi pikiran dan perasaan teman-temannya yang lain. Ini menabrak logika. 
    Kecuali kalau memang teman-teman Asep blak-blakan pada Asep tentang perasaannya. Kalau memang benar begitu, sampaikan pada narasinya. Jangan sampai ada narasi Asep, “Sebenarnya Nisa tidak mau belajar, tapi dia tetap belajar.” Dari mana asal pengetahuan itu? Jelaskan. 
  • Contoh kekeliruan lain: Asep adalah anak kampung yang putus sekolah, tapi pandai bicara tentang partitur ketika mendengar musik. 
  • Penutur orang pertama harus punya langit pengetahuan yang sesuai dengan pengalaman pribadinya. Yang tidak dialami, jangan diceritakan. 
    Kecuali, si Asep ini mendengar cerita dari temannya, tentang temannya yang lain. Terjelaskanlah kenapa dia bisa tahu ini dan itu.  
  • Diksi erat kaitannya dengan karakter tokoh. Jangan sampai seorang Jawa berlogat Sunda. Kalaupun mau begitu, jelaskan kenapa! Jika logat membias, pembaca-pembaca pemula dijamin tidak akan larut dalam suasana si tokoh, justru mempertanyakan narasinya. Contoh sederhana, Asep si anak Sunda, bernarasi, “Si Nurdin kegiatannya nongkrong tok.” Ada diksi yang mengganggu pembaca.  

Intinya, setiap tokoh dalam cerita mesti punya karakter dan langit pengetahuannya sendiri. Dalam penutur orang pertama, jika si tokoh utama menyimpang dari karakter atau keluar dari langit pengetahuannya, jelaskan sebabnya. 
Kalau memang mau segala tahu, melampaui langit pengetahuan setiap tokoh di dalam cerita, gunakan penutur orang ketiga. 
Meskipun memakai penutur orang ketiga, penulis baiknya tidak terlalu bernafsu menceritakan suasana (hati) semua tokoh. 
 
Dalam fiksi, ada hal-hal yang memang lebih baik tidak disampaikan dan biarkan pembaca memakai imajinasianya sendiri. Kerja penulis memang melebaykan keadaan; hasilnya bisa romantis, tragis, tapi bisa juga hambar, tergantung keberhasilan dramatisasi. 
Rindu mengigilkan selaput ari. *ekstrem* :) ) RT @rezanufa Jika pakai kulit untuk mendramatisasi, misal: angin menyayat, dsb


Membuat Kalimat Yang Benar -@bewriter01 (Chirpstories)

Kalimat yang baik memiliki struktur yang jelas. Umumnya Subyek (S) Predikat (P) obyek (O) n Keterangan (K) =SPOK. Tetapi tidak semua harus begtu, tergantung kebutuhan juga, minimal terpenuhinya struktur S P. 
    Subyek adalah pelaku, Predikat adalah kegiatan\kata kerja tentang pelaku ngapain, obyek adalah “sasaran” laku Subyek dan keterangan adlah penjelas. Tidak semua kata kerja (P) butuh obyek, 

    Mari kita praktek dan membandingkan kalimat dengan frase dengan ide “cinta dan pesek”.

      • Cowok gelap itu mengelus hidungnya yg sederhana di depan cermin buramnya (SPK) 
      • Dia merasa hidungnya adlah masalah terbesar dlm hidupnya (SPOK)
      • Dia lalu menangis terisak (SP)
      • Cowok yg berhidung sederhana itu, yg setiap malam bgtu rutin mematut hidungnya penuh duka, yg berharap ada keajaiban untuknya. (frase)
      • Cowok yg penangis itu, yg tlah bnyk membaca buku ttg panduan mudah dpt pacar, yg sellu curhat ke flashdisk 5 teranya. (frase)
      • Dia membayangkan kan btp indah hidupnya jika saja hidung sederhananya yg jd alsan @AvifahVe menolak cintanya tiba2 mancung (kalimat)
      • Dia heran, bgaimna mungkin @AvifahVe hnya melihat hdungnya, pdhl hatinta sngt bangir tuk selalu berikan yg terbaik padanya (kalimat)
      • akhirnya, dia mngerti bhw sikap @AvifahVe itu lntran dia terus terngiang sama mantannya yg berdada mancung itu (kalimat)

        Percuma kita membuat kata-kata sebanyak apapun jika ternyata lepas  dari struktur dasarnya itu, tidak akan menjado bacaan yang jelas bagi pembaca. Bandingkan dua sampel berikut untuk membedakan antara kalimat dengan frase:
        • Lelaki yang berkemeja kotak itu menandaskan bahwa ia bukanlah orang yang mereka cari. 
        • Lelaki yang berkemeja kotak, yang wajahnya tirus dengan tahi lalat tidak menarik macam @rezanufa dan hidung tenggelam kayak @vanBinu. 
        Selain kalimat dan frase, ada pula jenis lain yang bersifat penegas\pengiat cerita. Ini bisa dipakai pula sebagai trik menyambung kalimat. Misal: 
        • gue gak habis pikir kok bisa ya Dani nyahut begitu. Penat. Mumet. Benar-benar tak terpikirkan. Rasanya pengen marah….
        • Tetapi gue memilih diam aja daripada keadaan makin keruh. Meski nggak nyaman sih. Meski akhirnya kudu gue pikul sendiri. Ah, sial!
        Penggunaan tanda baca. Perhatikan penggunaan koma, titik, tanda tanya, tanda seru, dll, fungsinya harus tepat guna. Kesalahan menggunakan tanda baca bisa menghasilkan makna dan intonasi yang berbeda lho. Akibatnya cerita menjadi ganjil jalannya.
          --
          Sumber: Chirpstories @rezanufa dan @nulisbuku

          Popular Posts

           
          Design by Satria Adhi