About

Club Cooee

Pages - Menu

Kamis, 17 Oktober 2013

Janganlah Menyamakan Witirmu dengan Maghrib.



Banyak hal yang semestinya kita kaji lebih mendalam mengenai pelaksanaan Shalat Witir. Shalat Sunnah yang satu sedikit berbeda dengan shalat sunnah lainnya. Beberapa kutipan yang sering kita dengar mengenai Shalat Witir antara lain:  "Janganlah menyamakan witirmu dengan Maghrib" atau "tidak ada witir dua kali dalam semalam".


Ibadah Sunnah Tidak Diserupakan dengan Ibadah Wajib
  • Selepas shalat wajib, kita diperintahkan untuk memisah antara shalat wajib dan shalat sunnah dengan dzikir /perkataan atau berpindah tempat.
  • Di antara hikmahnya agar ibadah wajib terpisah dengan ibadah sunnah, atau agar keduanya tidak sama. Begitu pula dalam beberapa macam ibadah, sesuatu yang sunnah tidak boleh disamakan dengan yang wajib.
  • Rasulullah s.a.w bersabda, “Janganlah kalian melakukan shalat witir dengan tiga raka’at, atau lima raka’at atau tujuh raka’at, jangan serupakan dengan shalat Maghrib.” (HR. Ibnu Hibban no. 2429, Al Hakim dalam Mustadroknya no. 1138 dan Al Baihaqi dalam Sunan Kubro no. 4593. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim).
  • Hadits As Saa-ib bin Yazid bahwa Mu’awiyyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepadanya,  “Apabila engkau telah shalat Jum’at, janganlah engkau sambung dengan shalat lain sebelum engkau berbicara atau pindah dari tempat shalat. Demikianlah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan pada kami. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah menyambung satu shalat dengan shalat yang lain, sebelum kita berbicara atau pindah dari tempat shalat.” (HR. Muslim no. 883).
  • Siapa yang shalat sunnah dengan dua kali tasyahud, itu dimakruhkan. Karena syari’at menginginkan agar shalat sunnah dan shalat wajib itu berbeda. Misalnya jika ada yang shalat sunnah qobliyah Zhuhur empat raka’at dengan dua kali tasyahud, maka ia telah menyamakan antara wajib dan sunnah. Lihat Syarhul Mumthi’, 4: 79.
  • Shalat witir bisa dilakukan dengan dua raka’at salam lalu satu raka’at salam. Boleh pula shalat tersebut dilakukan dengan tiga raka’at langsung salam. Cara yang kedua dilakukan dengan sekali tasyahud dan bukan dua kali tasyahud. Karena jika dijadikan dua kali tasyahud, maka miriplah dengan shalat maghrib. Padahal shalat sunnah tidak boleh diserupakan dengan shalat wajib. Lihat Syarhul Mumthi’, 4: 16.
  • Diharamkan berpuasa pada hari ‘ied dan pada hari yang meragukan agar bisa dibedakan antara puasa Ramadhan dan puasa lainnya. Karena dikhawatirkan ada tambahan selain puasa wajib yang tidak dituntunkan.

Shalat Witir

Kata "witir" artinya "ganjil”.
Shalat witir adalah shalat yang dikerjakan pada malam hari yang rakaatnya ganjil. Jumlah rakaatnya boleh 1 rakaat, 3 rakaat, 5 rakaat, 7 rakaat, 9 rakaat, atau 11 rakaat. Jadi paling sedikit 1 rakaat dan paling banyak 11 rakaat.
Sebagaimana dinyatakan oleh A’isyah ra “Tidaklah pernah Nabi SAW shalat malam (witir) melebihi sebelas rakaat“.

Hukum shalat witir adalah sunat mu'akkad.
Shalat witir ini sangat dianjurkan untuk dikerjakan setiap malam sebelum tidur (setelah shalat isya) atau setelah shalat tahajud, walaupun hanya 1 rakaat.

Shalat witir dikerjakan sendiri-sendiri (tidak berjamaah), kecuali pada malam bulan Ramadhan.

Tata Cara Shalat Witir
Janganlah menyamakan witirmu dengan Maghrib.
Cara mengerjakannya adalah dua rakaat satu salam, kemudian terakhir satu rakaat dengan satu salam dan bila dikerjakan tiga rakaat, maka tidak usah tasyahud awal supaya tidak menyerupai shalat Maghrib.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang artinya : “Telah berkata ‘Aisyah : adalah Rasulullah SAW pernah shalat Witir tiga rakaat yang ia tidak selingi apa-apa (tasyahud) diantaranya“. (HR. Ahmad)

Bagi yang mengerjakan solat witir 3 rakaat, hendaklah ia tidak duduk (tahiyyat awal) kecuali pada rakaat yang akhir yaitu membaca tasyahhud akhir dan salam.
Ini berdasarkan hadis Rasulullah saw , daripada Saidatina A’isyah ra : (Baginda saw) tidak duduk sama sekali semasa mengerjakannya melainkan pada rakaat yang terakhir. (HR Muslim no : 737)

Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah : Tidak harus menjadikan solat witir seperti solat Maghrib. Oleh karena itu solat witir itu mestilah berbeda dengan solat maghrib, walaupun sama dari segi bilangan rakaatnya. Maka pada solat witir itu tidak boleh dilakukan tahiyyat awal karena jika dilakukan akan menyebabkan persamaan pada kedua-dua solat tersebut (maghrib dan witir).
Hujjah di atas juga dikuatkan dengan dalil hadis Rasulullah saw : “Janganlah Kamu mengerjakan solat witir 3 rakaat seperti solat maghrib.” (HR Al-Hakim.Ibn Hajar al-‘Asqalani mengatakan sanad hadis ini sahih mengikut Bukhari dan Muslim.Rujuk Fath al-Bari m jilid 4 ,ms :301)

Niat shalat witir dibaca dalam hati pada saat takbiratul ihram
  • Bacaan niat shalat Witir dua rakaat : “Ushalli sunnatal witri rak’ataini lillahi ta’aalaa.” Artinya : Aku niat shalat sunnah Witir dua rakaat karena Allah Ta’ala.
  • Bacaan niat shalat Witir satu rakaat : “Ushalli sunnatal witri rak’atan lillahi ta’aalaa.” Artinya:  Aku niat shalat sunnah Witir satu rakaat karena Allah Ta’ala.
  • Bacaan niat shalat Witir tiga rakaat : “Ushalli sunnatal witri tsalatsa raka’aatin lillahi ta’aalaa.” Artinya : Aku niat shalat sunnah Witir tiga rakaat karena Allah Ta’ala.

Adapun surat yang dibaca sesudah Al-Fatihah, boleh surat apa saja yang dikuasai. Akan tetapi sebaiknya dibaca:
  • pada rakaat, pertama surat Al-A'laa,
  • pada rakaat kedua AI-Kaafiruun,
  • dan pada rakaat ketiga Al-Ikhlash, AI-Falaq dan An-Naas (dibaca berturut-turut).

Sekiranya solat witir yang dilakukan secara jahr, maka bacaan yang perlu dijahrkan hanyalah pada 2 rakaat pertama saja, yaitu rakaat pertama dan kedua. Manakala pada rakaat ketiga dibaca secara perlahan (sirr). Walau bagaimana pun dibolehkan juga untuk membaca secara jahr pada ketiga-tiga rakaat solat witir tersebut sebagaimana yang di amalkan di Masjid Nabawi , Madinah Al-Munawwarah

Disunnahkan melakukan qunut seperti qunut sholat Subuh (Khusus Bulan Ramadhan)
  • Apabila shalat tarawih pada bulan Ramadhan sampai pada tanggal 15 Ramadhan sampai seterusnya, maka pada rakaat Witir.
  • Madzhab Syafii mengatakan qunut dalam witir hanya dilakukan pada pertengahan kedua bulan Ramadhan, tempatnya setelah saat I'tidal sebelum sujud pada rakaat terakhir, sesuai yang dilakukan Ubay bib Ka'b.

Doa setelah shalat Witir :
“Allaahumma Innaa Nas’aluka Imaanan Daa-Iman, Wa Nas’aluka Qalban Khaasyan, Wa Nas’aluka “Ilman Naafi’an, Wa Nas’aluka Yaqiinan Shaadiqan, Wa Nas’aluka ‘Amalan Shaalihan, Wa Nas’aluka Diinan Qayyiman, Wa Nas’aluka Khairan Katshran, Wa Nas’alukal ‘Afwa Wal ‘Aafiyah, Wa Nas’aluka Tamaamal Aafiyah, Wanas’alukasys Yukra Alal Aafiyah, Wa Nas’alukal Grilnaa ‘Aninnaas. Allaahumma Rabbanaa Taqabbal Minnaa Shalaatanaa Wa-Shiyaamanaa Wa Qiyaamanaa Watakhasy-Syu’anaa Wa Tadharru’anaa Wa Ta’abbudanaa Wa Tammim Taqshiiranaa, Yaa Allaahu Yaa Allaahu Ya Allaahu Yaa Arhamar Raahimi Washallallaahu ‘Alaa Khairi Khalqihi Muhammadin Wa ‘Alaa Aalihi Wa Shahbihi Ajma’iina Wal Hamdu Lillaahirabbil ‘Aalamiin.”
Artinya:
“Wahai Allah! Sesungguhnya kami memohon kepada-Mu iman yang tetap, kami memohon kepada-Mu hati yang khusyu’, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, kami memohon kepada-Mu keyakinan yang benar, kami memohon kepada-Mu amal yang shaleh, kami memohon kepada-Mu agama yang lurus, kami memohon kepada-Mu kebaikan yang banyak, kami memohon kepada-Mu ampunan dan afiat, kami memohon kepada-Mu kesehatan yang sempurna, kami memohon kepada-Mu syukur atas kesehatan, dan kami memohon kepada-Mu terkaya dari semua manusia. Wahai Allah, Tuhan kami! Terimalah dari kami shalat kami, puasa kami, shalat malam kami, kekhusyu’an kami, kerendahan hati kami, ibadah kami, Sempurnakanlah kelalaian (kekurangan) kami, wahai Allah, wahai Allah, wahai Allah, wahai Zat Yang Paling Penyayang di antara para penyayang, Semoga rahmat Allah tercurahkan kepada sebaik-baik makhluk-Nya, Muhammad, keluarga dan sahabatnya semua, dan segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam”

Tidak ada witir dua kali dalam semalam.
Para ulama berbeda pendapat mengenai seseorang yang yang berwitir pada awal malam lalu tidur dan bangun di akhir malam dan melakukan sholat. Sebagian ulama berpendapat bahwa batal witir yang telah dilakukannya pada awal malam dan di akhir malam ia menambahkan satu rakaat pada sholat witirnya, karena ada hadist yang mengatakan "tidak ada witir dua kali dalam semalam". Witir artinya ganjil, kalau ganjil dilakukan dua kali menjadi genap dan tidak witir lagi, maka ditambah satu rakaat agar tetap witir. Pendapat ini diikuti imam Ishaq dll.

Redaksi hadist tersebut sbb:
Dari Qais bin Thalk berkata suatu hari aku kedatangan ayahnya Thalq bin Ali di hari Ramadhan, lalu beliau bersama kita hingga malam dan sholat (tarawih) bersama kita dan berwitir juga. Lalu beliau pulang ke kampungnya dan mengimam sholat lagi dengan penduduk kampung hingga sampailah sholat witir, lalu beliau meminta seseorang untuk mengimami sholat witir "berwitirlah bersama makmum" aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda "Tidak ada witir dua kali dalam semalam" H.R. Tirmidzi, Abu Dawud, Nasai, Ahmad dll.



Demikianlah, LyngLyng merangkum dari berbagai sumber:
  1. http://rumaysho.com/faedah-ilmu/ilmu-ushul/4322-ibadah-sunnah-tidak-diserupakan-dengan-ibadah-wajib.html
  2. http://www.al-ahkam.net/home/content/sj-05-0391-cara-solat-witir-3-rakaat
  3. http://arekkemalangan.blogspot.com/2013/04/sholat-witir.html
  4. http://gudangdoa.blogspot.com/2013/01/sholat-witir.html



0 komentar:

Posting Komentar

Komentar masih gratis kok, gak usah sungkan.. Hehe..

Popular Posts

 
Design by Satria Adhi